Semua murid di kelas 2B memusatkan perhatian pada seorang siswa baru yang sedang diperkenalkan oleh guru. Mereka menyadari sosok siswa tersebut adalah Masayuki Nao, foto model terkenal saat ini. Ketika jam istirahat dimulai, sebagian siswi mendekatinya dan memperkenalkan diri, namun sang siswa baru bersikap dingin dan memilih untuk keluar dari kelas.
Dengan tangan kiri di dalam saku celana ia berjalan menelusuri koridor lantai dua.
"Masayuki Nao ?" sebut sebuah suara laki-laki dari arah tangga. Nao menoleh ke arah datangnya suara.
Siswa tersebut tersenyum senang dan segera turun menemuinya. "Aku Kirihara Kazu, siswa kelas 3A", ia memperkenalkan diri.
Nao tersenyum mengejek. "Jangan katakan kalau senpai adalah salah satu penggemar ku"
Kazu terdiam sejenak kemudian tertawa ramah. "Kau pasti sudah tidak mengenali ku. Bisa kita bicara sebentar ?"
Keduanya naik ke loteng sekolah.
"Kau hadir di acara pemakaman kakak ku", kata Kazu. "Kalian pasti teman baik, ya"
Nao menyandar ke dinding. "Bukan", jawabnya singkat.
"Eh ? Tapi saat itu Masayuki-san terlihat sangat sedih"
Nao tertawa geli. "Bahkan senpai pun tertipu oleh akting ku. Hahahaha !!!"
"Masayuki-san"
"Saat itu banyak sekali wartawan yang meliput, tentu aku harus mampu menyesuaikan keadaan"
'Entah kenapa aku lebih mempercayai yang kulihat saat itu. Masayuki-san berbohong ? Kenapa ? ' pikir Kazu.
"Nee, Senpai", panggil Nao. "Klub apa yang senpai ikuti ?"
Kazu tersadar dari lamunannya. "Oh, ... Eh...klub drama"
"Hooo...Kalau begitu aku ingin masuk klub drama"
"..."
"Senpai ?"
"Oh, ... ya. Tentu saja. Sepulang sekolah aku akan memandu mu ke ruang klub"
"Terimakasih, Kirihara Senpai", ucapnya yang lalu meninggalkan Kazu.
Seperti yang telah dijanjikan, sepulang sekolah Kazu membawa Nao ke klub drama dan memperkenalkannya pada para anggota.
"Lalu siapa ketua klub kalian ?", tanya Nao.
Kazu menggarut kepalanya sambil tersenyum. "Maaf, aku lupa memberitahu mu. Akulah ketua klub drama"
Nao mengangguk. "Begitu", tanggapnya. "Ini adalah hari pertama ku di klub. Aku harap kalian semua tidak keberatan bila aku melihat-lihat dulu kegiatan kalian"
Semuanya menyetujui. Mereka sangat senang klub drama menjadi pilihan siswa baru tersebut. Permintaan untuk foto bersama pun membanjir. Setelah itu ketika kegiatan klub akan berjalan, Nao duduk di bawah jendela sambil bertopang dagu melihat latihan mereka. Tak lama kemudian ia pun tertidur.
...
"Masayuki-san. Masayuki-san"
"Ngg ... Ada apa ... Takao-san ", igau Nao yang kemudian terbangun. "Senpai ?"
Kazu tersenyum. "Sudah waktunya pulang"
Nao mengambil tas nya dan bergegas pulang.
Pemotretan di studio untuk sebuah majalah fashion dengan Nao sebagai modelnya dilakukan selama beberapa hari sepulang sekolah. Wajah dingin pemuda itu menjadi nilai jual tersendiri.
"Anak itu jadi dingin. Kapan terakhir aku melihatnya tersenyum, ya"
"Anak muda memang selalu berubah. Kita semua tahu itu", kata Sakurai, direktur model agency tempat Nao bekerja.
"Oke ! Untuk hari ini sampai di sini dulu. Kita akan lanjutkan besok", kata fotografer.
Nao duduk di kursi dan meneguk minumannya. Ia sangat lelah setiap kali harus melakukan pengambilan gambar sejak ia bersekolah. Ia harus bekerja hingga larut malam.
Sakurai berdiri di belakang pemuda itu. "Aku akan mengantar mu pulang"
"..."
Seluruh anggota klub drama sedang berdebat mengenai seringnya ketidakhadiran Nao dalam kegiatan.
"Kirihara-senpai, tolong untuk lebih tegas lagi !"
"Maaf, aku terlambat", kata Nao.
Semua terdiam.
"Kenapa ?", tanya Nao.
Kazu berusaha tersenyum. "Masayuki-san, kami sedang membicarakan tentang mu", katanya. "Dua bulan lagi festival ulang tahun sekolah. Kami akan mementaskan drama dan sedang mempersiapkannya. Kami harap kau dapat berpartisipasi dalam drama ini"
"Maksud senpai adalah aku ikut berperan dalam drama jelek itu ?"
"Apa maksud mu drama jelek ? Sejak awal kau masuk ke klub, tidak pernah ada kegiatan apapun yang kau ikuti. Kau hanya tidur dan tidur setiap kali kami latihan. Sebenarnya apa tujuan mu memilih klub drama ?"
Setelah tidak ada tanggapan apapun dari Nao, seluruh anggota klub meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Kazu dan Nao.
"Ternyata cerita yang kubuat jelek, ya", kata Kazu.
"Sudah kuduga itu adalah buatan senpai", katanya yang kemudian berbalik pergi. "Aku juga mau pulang"
"Tunggu ! Masayuki-san !" Kazu mengejarnya. "Kita bisa merundingkannya. Masih ada waktu"
"Tidak ada drama yang hanya dipentaskan oleh dua orang"
"Aku akan membujuk mereka"
Hujan deras mengguyur saat mereka akan meninggalkan kawasan sekolah. Kazu mengajak Nao ke tempat tinggalnya yang tidak jauh dari sekolah. Sambil menunggu Kazu selesai mandi, Nao pergi ke minimarket lalu segera kembali.
Sambil duduk di dekat jendela, Nao merokok dan meneguk beer yang tadi dibelinya.
"Kau merokok ?" tanya Kazu dengan handuk yang masih menggantung di leher.
Nao menghembuskan asap rokok dari mulutnya. "Aku harap tidak akan mengganggu senpai"
Kazu melihat banyak kaleng beer di meja juga puntung rokok di asbak. "Berhentilah. Ini semua tidak baik untuk tubuh. Lagipula bagaimana caramu mendapatkannya. Mereka tidak menjualnya pada anak dibawah umur"
"Aku meminjam jasa dari seorang paman-paman yang berbelanja di minimarket"
Kazu merampas beer dan rokok yang tengah dihisap pemuda itu.
Nao tersenyum lalu menekan Kazu ke lantai hingga kakak kelasnya terbaring. "Senpai begitu peduli dengan kesehatan ku. Tentunya harga dari rasa peduli itu harus dibayar bukan ?"
"A..apa maksud mu ?"
"Nee, Senpai. Aku akan melakukannya dengan mu" Ia mencium Kazu dengan lembut.
"Apa kau sadar yang sedang kau lakukan ? Masayuki-san !"
"Senpai. Tolong diamlah", kata Nao. "Senpai cukup merasakan kenikmatan ini. Sisanya serahkan pada ku"
"Hei !" Kazu tidak mampu melawan pemuda itu. Detakan jantung yang begitu cepat serta kenikmatan dari setiap sentuhan Nao membuatnya kehilangan tenaga untuk mendorongnya.
Keesokan sorenya Nao pergi ke ruang klub. Hanya ada Kazu di sana. Ia meletakkan tasnya di lantai dan duduk lalu bersandar ke dinding sambil menyalakan api pada rokok. Kazu menghampirinya lalu merampas rokok itu dan membuangnya.
"Kalau senpai begitu menginginkan ku, langsung katakan saja. Tidak perlu berpura-pura peduli pada ku"
"Kenapa kau mengira aku ingin melakukannya ? Sepertinya hal seperti itu sudah tidak asing lagi bagimu"
"Semalam senpai menikmatinya bukan ?"
Kazu memegang kedua pundak Nao dan menatapnya dengan serius. "Aku hanya tidak ingin melihat mu menjadi Takao yang kedua !"
Nao terdiam.
"Kakak ku yang sangat ku puja meninggal karena over dosis. Dia perokok tapi aku tidak pernah berpikir kalau dia juga pecandu. Kakak ku menghancurkan dirinya sendiri. Aku tidak ingin melihat mu menjadi seperti dia, Masayuki-san"
"..." Nao mengalihkan pandangan darinya. "Pergilah mencari anggota yang lain. Aku akan menunggu di sini"
"Masayuki-san, berjanjilah kau akan berhenti merokok dan minum-minum"
"..."
"Berhentilah sebelum kau melakukan yang lebih buruk lagi seperti Takao"
"... Aku tidak wajib berjanji pada mu. Dan aku tidak mau berhenti"
"Kalau begitu kenapa kau masuk ke sekolah ini ? Bukankah kau telah berhenti dari sekolah mu selama setahun ? Kenapa tidak kembali ke sekolah mu yang dulu ?"
"Senpai", sebut Nao. "Kalau tidak segera mencari anggota yang lain, mungkin inilah akhir dari klub mu"
Dengan kesal Kazu meninggalkannya dan mencari anggota klub yang lain.
Nao mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai menghubungi seseorang. "...Takao-san, ... aku ingin bertemu dengan mu ... Takao-san"
Beberapa saat kemudian Kazu kembali bersama anggota yang lain.
"Nah, Masayuki. Kami ingin lihat kemampuan mu membuat cerita untuk drama nanti. Bila ternyata kau gagal, minta maaflah pada Kirihara senpai dan keluarlah dari klub"
"Fujitomi-san, kenapa kalian tidak membicarakan hal ini dulu dengan ku ?" tanya Kazu.
"Maaf, Senpai. Kami terpaksa mengambil keputusan sendiri"
"Baik" Nao menerima tantangan tersebut. "Dua minggu dari sekarang kalian akan menerima naskahnya"
"Dua minggu ? Itu terlalu lama !"
"Aku tidak punya banyak waktu luang seperti kalian. Jadwal ku padat"
"Baiklah, Masayuki-san", kata Kazu. "Kami menunggu naskahnya"
Selama pembuatan naskah drama, Nao absent dari sekolahnya namun tetap beraktivitas sebagai model.
"Sudah dua minggu. Sebaiknya kita jangan menunggunya lagi"
"Tunggulah", kata Kazu. "Hari ini adalah batas waktunya. Aku yakin Masayuki-san akan datang"
"Kenapa senpai begitu mempercayainya ? Kami semua tidak menyukai sikapnya yang sangat tidak menghargai senpai sebagai ketua klub"
"... aku tidak tahu", jawab Kazu.
Pintu dibuka dan Nao pun masuk. "Seperti yang kujanjikan", katanya. Ia memberikan naskah itu pada Kazu.
"Beritahu kami garis besar cerita ini ?"
Nao menghela napas dan menepikan diri ke dinding lalu melihat ke jendela dengan kedua tangan di dalam saku celana. "Perempuan yang dikuasai oleh seseorang yang jahat. Perempuan itu menjalin kasih dengan seorang lelaki yang ingin membebaskannya. Tapi pada akhirnya dia tidak mendapatkan apapun, malah kehilangan cintanya yang dibunuh di depan matanya"
"Kesuksesan cerita mu ini akan diketahui hasilnya saat pementasan nanti", kata Aya.
"..."
"Aku tidak akan ikut dalam cerita ini. Jadwal ku sangat padat. Karena itu aku tidak bisa hadir lagi di klub ini", kata Nao.
"Tidak bisakah kau meminta kelonggaran jadwal ?" tanya Kazu.
Nao menatap Kazu untuk sesaat, kemudian ia meninggalkan mereka.
Sejak saat itu lagi-lagi Nao tidak datang ke sekolah. Dan pada suatu sore ketika Kazu pulang, ia menemukan Nao tengah duduk di depan pintu rumahnya.
"Bagaimana latihannya ?"
"Kalau kau memang memiliki waktu luang, datang dan lihatlah hasil latihan kami"
"..."
"Kami mengakui cerita itu berisi. Sangat jauh dari buatan ku"
"Lalu peran apa yang senpai dapatkan ?"
"Ryu", jawab Kazu.
"Hooo...seperti yang kuharapkan", kata Nao.
"Eh ?"
"Senpai ingin latihan dengan ku ? Anggap saja aku adalah wanita yang malang itu"
Kazu terdiam. Ia dapat merasakan detakan jantungnya yang menguat dan cepat. 'Kenapa dengan ku ?' pikirnya.
Nao memeluknya lalu menciumnya. "Tolong aku, Ryu"
Mereka berciuman dan merebahkan diri ke sofa. Kemudian Kazu menghentikannya. "Tunggu dulu", katanya. "Tidak ada adegn ini di pementasan nanti. Juga adegan ciumannya kan hanya bohongan"
"Anggap saja ini adalah bonus dari latihan, Senpai. Atau ... senpai tidak menginginkan ku ?"
"Bu-Bukan begitu ! Aduh apa yang kukatakan ini .... Maksud ku ..."
Nao menarik kerah baju Kazu. "Jangan pikirkan apa pun. Cukup lakukan saja" Mereka kembali berciuman dan melakukannya.
***
"Aku ... menyukai mu, Masayuki-san", kata Kazu.
Nao tidak menanggapinya. Ia bangun dan berpakaian. "Aku harus pergi sekarang"
"Masayuki-san", panggilnya.
"Kita tidak akan bertemu lagi", kata Nao. "Selamat tinggal, Kirihara Senpai"
Hari Festival pun tiba. Banyak sekali orang luar yang datang berkunjung. Ketika pertunjukan drama panggung dimulai, tidak ada begitu banyak penonton yang menyaksikan, namun ketika memasuki pertengahan cerita, kursi yang tadinya kosong telah terisi penuh, bahkan masih ada banyak yang berdiri di belakang. Pada penghujung drama, banyak yang menangis karena terharu. Drama panggung ini sukses.
Semua anggota klub drama sangat senang dengan kesuksesan penampilan mereka kecuali sang ketua klub.
"Senpai, kita harus merayakannya. Ajak Masayuki juga"
"Aku tidak tahu cara menghubunginya", jawab Kazu.
"Eh ? Bukankah senpai dekat dengannya? Undang dia lewat mail"
"Maaf, Semuanya. Aku tidak bisa ikut dengan kalian. Aku harus segera pulang", Ia berpamitan. 'Sebenarnya apa yang terjadi dengan Masayuki-san ? Aku ingin sekali bertemu dengannya', pikirnya yang kemudian mengeluarkan Hp. Ia menerima sebuah pesan dari nomor tak dikenal. 'SELAMAT ATAS PERTUNJUKKANNYA. SEPERTINYA AKU MENANG', isi pesan tersebut.
Kazu menyadari pesan itu dari Nao. "Dia datang", gumannya yang segera mencari keberadaan Nao. Namun tidak dapat ia temukan dimanapun juga.
Keesokannya Kazu pergi ke model agency tempat Nao bekerja. Para pegawai bagian receptionist mengatakan bahwa Nao tidak akan menemui siapa pun hari ini. Bagaimanapun Kazu mencoba memohon namun tetap saja mereka tidak mengizinkannya menemui Nao. Hingga kurang lebih dua jam kemudian, setelah Kazu menunggu di luar gedung, Nao keluar bersama direktur model agency nya.
"Masayuki-san !!! Masayuki-san !!!"
Nao terkejut melihat Kazu lalu memalingkan wajah. "Aku tidak mengenalnya. Jangan biarkan dia mendekati ku"
Kedua petugas keamanan menahan Kazu untuk mendekat hingga Nao dan Sakurai masuk ke dalam mobil.
"Tidak kusangka wajahnya begitu mirip dengan mantan kekasih mu. Pantas saja kau memilih sekolah yang sama dengannya", kata Sakurai yang sedang menyetir.
"Aku tidak pernah menemuinya lagi seperti yang kau inginkan. Kau pun harus menepati janji mu"
Sakurai tersenyum. "Seandainya adiknya tiba-tiba mati atau semacamnya, kau tidak bisa menyalahkan ku, Nao. Jangan terus menerus beranggapan negatif tentang aku.", katanya. "Nah, Nao. Jadwal mu sampai minggu depan longgar bukan ?"
Begitu mereka sampai di apartemen Nao, Sakurai langsung menghempaskan tubuh kecil model itu ke ranjang lalu menidurinya dengan kasar dan kejam. Setelahnya, Sakurai pergi meninggalkannya.
Nao meringkuk sakit akibat perbuatan Sakurai. Setelah itu ia diserang oleh sakit kepala yang sangat hebat dan rasa ngilu di sekujur tubuhnya. Dengan nafas yang tidak beraturan dan tubuh yang menggigil, ia mencari sesuatu dari tas yang selalu ia bawa kemanapun. Kemudian ia menyuntikkan heroin ke pembuluh darah di tangannya.
Kazu memasuki apartemen kakaknya. 'Aku bahkan tidak pernah datang lagi sejak kematian kakak', pikirnya. Ia berjalan menelusuri seluruh ruangan yang tertutup debu tebal. Ia memeriksa barang-barang milik Takao dan mendapatkan album foto kakaknya bersama Nao. 'Ternyata benar kalian memang saling kenal', gumannya. Kemudian Kazu melihat sebuah disk yang diselipkan di dalam album tersebut. Judul disk itu hanyalah berupa enam digit angka. 101014. Dengan penasaran ia memasukkannya ke dalam dvd player. Betapa terkejutnya dia ketika menonton isi disk tersebut, sebuah adegan hubungan intim antara kakaknya dengan Nao yang begitu jelas.
Ia kembali dikejutkan oleh telepon di apartemen tersebut yang berdering.
'Semua orang tahu kakak sudah meninggal. Siapa yang masih menghubunginya ?' pikirnya.
Saat ini aku sedang tidak di tempat. Tinggalkan pesan saja dan akan kuhubungi bila perlu. Jaaa, suara Takao yang direkam pada mesin penjawab.
"Takao-san..."
"Masayuki-san ?" kejut Kazu.
"... Takao-san ... aku mohon kemarilah. Tolong aku."
Kazu menyambut telepon itu. "Masayuki-san ! Katakan dimana kau sekarang !"
"! Kenapa Kazu ada di sana ?", guman Nao yang terkejut. Kemudian ia menutup telepon itu.
Kazu melihat ada banyak sekali voicemail yang belum pernah dibuka. Ada ratusan dan keseluruhannya adalah dari Nao. Ia mencoba mendengarkan satu persatu mailvoice tersebut.
V1 : Takao-san, maafkan aku. Kalau sudah kembali, segera hubungi aku.
V2 : Takao-san, cepatlah kembali.
V3 : Takao-san, ... aku mencintai mu.
V4 : ... Bawalah aku bersama mu.
|
|
V~ : Takao-san, aku akan kembali sekolah. Aku memilih sekolah yang sama dengan adik mu.
V~ : Kazu sangat mirip dengan mu. Takao-san
Kazu menunduk mengusap rambutnya ke atas. Rasanya ia ingin sekali berteriak.
Sejak hari itu, senyuman Kazu tidak pernah tampak lagi. Ia berhenti dari klub drama dan juga berhenti bergaul dengan teman-temannya. Ia menghabiskan seluruh waktunya dengan menyendiri.
"Oi, Kirihara !" panggil salah seorang teman sekelasnya. "Sudah lihat berita hot terbarunya Masayuki Nao ? Dia anggota klub mu, kan"
"Berita apa maksud mu?" tanya Kazu.
"Baru-baru ini beredar video yang mirip dengan Masayuki Nao bersama Direktur Sakurai Agency"
"Oooh", tanggap Kazu dengan datar.
"Ini bukan video biasa, Kirihara. Kuperlihatkan padamu", ia mengeluarkan handphone nya dan membuka video tersebut. "Aku yakin kau akan terkejut"
Rekaman video itu sangat jelas. Di dalam video tersebut Nao dipaksa untuk bercinta dg Sakurai.
"Darimana kau dapatkan video ini ?"
"Internet. Ini sedang menjadi pembicaraan hangat. Masa kau tidak tahu ?"
"Ah, Kirihara-san", panggil seorang siswi sekelasnya. "Apa video itu benar-benar Masayuki Nao ?"
Kazu tidak menanggapinya dan menanyakan hal yang lain. "Apa sudah ada konfirmasi dari Sakurai Agency ?"
"Tentu mereka akan menyangkalnya. Sepertinya sore ini akan diadakan jumpa pers terkait hal itu"
Kazu mencoba menyelinap masuk ke ruang jumpa pers. Ia menyamar sebagai wartawan radio agar bisa masuk.
Direktur Sakurai bersama Nao memasuki ruangan dan duduk di tempat yang telah disediakan. Berbeda dengan direktur Sakurai yang tersenyum, wajah Nao terlihat lelah dan muram.
"Terimakasih kepada teman-teman pers yang telah datang hari ini. Kami akan mengklarifikasi mengenai video yang melibatkan kami di dalamnya", kata Sakurai.
"Apakah kedua orang tersebut adalah anda dan Masayuki -san ?"
"Tentu saja bukan", jawab Sakurai.
"Bagaimana dengan anda, Masayuki-san ?"
Sakurai menoleh pada Nao. "Kita tidak mungkin melakukan itu bukan"
Nao menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "... itu memang aku dan Sakurai-san"
Semua kamera wartawan berfokus pada model tampan itu.
"Oi, jangan membuat sensasi !Tidak ada hal seperti itu yang pernah terjadi !"
"Akulah yang membuat rekaman itu dan menyebarkannya", lanjut Nao.
"Bicara apa kau ini ? Ini bukan waktunya bercanda", kata Sakurai.
"Mengelaklah sebisa mu, Sakurai-san. Itu pun bila anda mampu"
Sakurai berdiri. "Kau mencoba memfitnah ku ?!"
"Seperti yang di rekaman itu, Sakurai-san terus memaksakan dirinya pada ku ! Dan bukan hanya itu ! Dia juga membuat ku menggunakan Heroine !"
Sakurai menariknya dan Nao meronta berusaha melepaskan tangannya.
"Sakurai-san lah yang membunuh Kirihara Takao ! Dia membunuhnya di depan mata ku !"
Kazu menerobos para wartawan dan membantu Nao melepaskan diri.
Sakurai segera meninggalkan ruangan. Ia gagal melarikan diri ketika akan meninggalkan gedung, polisi langsung menangkapnya setelah sebelumnya Nao menghubungi mereka untuk datang.
Dengan cepat Kazu membawa Nao pergi dan memasuki ruangan lain dengan sembarang. Ia mengunci pintu dari dalam agar tidak ada yang masuk.
Nao duduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya.
"Kurasa kita aman di sini", kata Kazu.
"... Maaf, aku sudah melibatkan Senpai"
Kazu duduk di sisinya dan memandanginya lama "... Kenapa kau terus menelepon ke apartemen Takao ?"
"... aku ingin mendengar suaranya"
"..."
"... akulah yang telah merenggut hidupnya"
"Kau bilang Sakurai yang telah membunuhnya"
"Itu karena aku !" Nao meninggikan suaranya. "Takao-san ingin menolong ku dari Sakurai-san. Tapi hubungan kami diketahui olehnya. Dia menjebak kami lalu menyuntikkan heroine dengan dosis tinggi pada Takao-san"
"..."
"Seandainya aku tidak pernah mengenal Takao-san....saat ini dia pasti masih hidup"
"..."
"Aku pun hampir mengulangi kejadian itu pada senpai. Karena itu aku sengaja merekam perlakuannya pada ku dan menyebarkannya. Aku ingin menghancurkan Sakurai-san !"
"Masayuki-san, ..." Kazu memeluknya.
"..."
"Aku akan melindungi mu", kata Kazu. "Mulai sekarang dan selamanya. Izinkan aku untuk mencintai mu, Masayuki-san"
"...! Senpai ..."
"Kau tidak akan sendirian lagi karena aku akan selalu bersama mu. Kau tidak perlu merasa cemas dan takut lagi"
Nao melepaskan pelukannya. "... Senpai", katanya. "...ini tidak akan mudah"
"..." Kazu menunggunya melanjutkan perkataan.
"... setelah yang terjadi hari ini ... aku akan bermasalah dengan hukum dan orang-orang akan merasa jijik pada ku"
"Aku tidak perduli", kata Kazu. "Apapun yang akan terjadi, kita akan menghadapinya bersama. Kau tidak perlu melihat dan mendengarkan mereka"
"Senpai, ... apa yang kulihat pada mu adalah Takao-san. Aku masih mencintainya"
"Kalau begitu cintailah Takao sampai kau berhenti mencintainya dan melihat ku"
"..."
"Izinkan aku untuk tetap di sisi mu, Masayuki-san"
"...Senpai"
"..."
"... baiklah"
Kazu tersenyum dan memeluk Nao. Setelah itu ia menemani Nao ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian mengenai Sakurai-san. Nao menjalani rehabilitasi selama berbulan-bulan agar terlepas dari ketergantungan penggunaan heroine. Setiap hari Kazu akan mengunjunginya untuk memberikan dukungan. Terkadang teman-teman dari klub drama juga akan berkunjung bersama Kazu. Setelah dinyatakan sembuh dari ketergantungan heroine, Nao tinggal bersama Kazu dan melanjutkan sekolahnya.
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar